Selasa, 27 Mei 2014

Mimpi Tak Sempurna

Mun terjaga dari mimpi ketika bis tua antar kota yang ditumpanginya memasuki kawasan terminal Batulayang. Kepalanya sontak berdenyut mendapati suasana terminal yang tampak begitu bising siang itu. Deru mesin kendaraan yang ditingkahi letupan klakson terdengar memperparah keadaan. Matahari yang bersinar terik sepanjang musim kemarau, ditambah debu-debu yang beterbangan di udara semakin membuat cuaca tampak tak bersahabat.
Wanita sederhana itu turun dari bis dengan tas tergenggam erat di tangan. Wajahnya yang putih, tampak semakin pucat dan letih lantaran mabuk di sepanjang perjalanan. Jarak tempuh yang  jauh, ditambah dengan kondisi jalan yang sulit membuat wanita muda itu limbung. Sehingga ia berusaha mencari pegangan di salah satu sudut pos penjagaan.
“Kemane Kak?” tanya seorang lelaki dengan logat melayu yang khas.
“Kotabaru keh Jeruju?”
Mun hanya terdiam sembari menyodorkan secarik kertas berisikan alamat.
“Ough,” lelaki itu manggut-manggut dan menunjuk ke arah sebuah bis kota bernomor nol sembilan.
Dengan lemah, Mun mengucap terima kasih. Lalu bergegas menaiki bis kota yang sarat penumpang.
Mun memejamkan mata. Lelah. Tulang belulangnya terasa remuk. Batinnya galau sebab pertengkaran dengan Abah kemarin malam, sebelum ia memutuskan untuk pergi.
“Ha, kau tengok sekarang!”
“Benarkan kata-kataku.”
“Lelaki pengangguran itu tak bisa ngasih kau makan.”
“Dia seniman Bah, bukan pengangguran.”
“Kalau bukan pengangguran lalu apa?” tanya Abah dengan mata melotot sementara Mun hanya diam.
“Berkali-kali aku bilang, jangan kau nikah sama dia! Lelaki tak jelas yang kerjaannya cuma genjrang-genjreng main gitar.”
 “Tapi aku cinta sama dia, Bah.”
“Orang hidup perlu makan Mun. Dan cinta tak bisa kautanak.”
“Lihat sekarang, habis ini kau ditinggal suamimu yang seniman itu.”
 Mun hanya tersenyum perih mengenang kata-kata pedas yang terlontar dari mulut Abah, lelaki yang tak pernah menyetujui pernikahannya.
Mun merenung. Mencoba menelaah kembali alasan keberangkatannya. Sembari memantapkan hati dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Hhhh...
Aku harus menemukannya, bisik hatinya.
Isi perut Mun kembali bergolak ketika kendaraan itu mulai bergerak. Bau asap hitam solar yang tak terbakar sempurna, terasa menggelitik hidung. Sehingga membuat wanita cantik itu cepat-cepat menutup hidungnya yang mancung dengan jemari tangan. Sesekali, ia melempar pandangan keluar jendela sambil berusaha menikmati pemandangan kota Pontianak yang baru pertama kali didatanginya.
“Itu anak-anak sanggar lagi latihan nari untuk acara kulminasi,” jelas seorang wanita tua baik hati teman seperjalanannya, ketika ia mendapati wajah Mun bengong saat melihat keramaian di depan tugu Khatulistiwa.
“Kapan acaranya Bu?”
“Minggu depan.”
Mun mengangguk-angguk. Bibir mungilnya membulat.
Wanita tua di sampingnya terdiam, dan mengalihkan pandangan ke depan. Ia lalu mulai menggerutu. Mengutuki pak supir yang mengemudikan bis dengan sangat lambat.
 “Stop kiri.”
“Tanjung Raya Kak,” suara itu mengejutkan Mun yang sedari tadi memejamkan mata. Segera ia turun setelah terlebih dahulu membayarkan sejumlah uang yang diminta oleh kondektur.
Ia lalu menyeberangi ruas jalan ketika lampu trafficlight berubah merah. Dengan langkah hati-hati, ia berhenti tepat di depan pintu gerbang berwarna kuning milik Istana Kadriyah yang berada di muka jalan.
Dari kejauhan tampak Ipah, sahabatnya, telah menanti.
@ @ @
 “Aku tak tahu harus nyari Bang Jul kemana Kak.”
“Die tak pernah ngasi kau alamat keh?” tanya Ipah sambil membolak-balik keripik keladi yang digorengnya dalam sebuah wajan besar.
“Tak ada. Sewaktu di kampung, Bang Jul cuma bilang mau kerja di sini. Tapi  ntah kerja apa aku pun tak tahu,” ucap Mun sedih.
Ipah menggelengkan kepala. Prihatin terhadap nasib yang menimpa sahabat kecilnya. Lelah ia membayangkan kehidupan berat yang dijalani oleh Mun. Pernikahan tanpa restu dengan seorang lelaki yang memiliki pekerjaan tak menentu.
“Sementara ini, kau tinggallah dulu di rumah Kakak. Nanti kita cari suamimu sama-sama.”
Mun hanya mengangguk, lalu melempar pandangan keluar. Menatap ke arah anak-anak kecil yang berlarian mengejar layangan di sepanjang jembatan kayu yang menghubungkan gang-gang sempit di kampung itu. Kampung Beting, kawasan padat penduduk di salah satu sudut kota Pontianak. Sesekali ia tersenyum dan menyapa ramah kepada beberapa ibu muda yang berjalan menenteng keranjang cucian, menuju ke arah sungai Kapuas yang berada tak jauh dari rumah Ipah.
“Mun, Kakak mau berangkat jualan. Kau tinggallah di rumah sebentar.”
“Jualan dimana Kak?”
“Di korem. Itu di seberang,” jelas Ipah sambil menunjuk ke satu arah di seberang sungai.
“Aku ikut Kak. Tak mau lah aku tinggal sendiri.”
“Ayolah,” ajak Ipah tersenyum.
Tanpa banyak cakap, Mun menaiki boncengan sepeda motor Ipah yang siap meluncur ke jalanan.
@ @ @
Malam mulai merangkak turun. Mun termenung di depan kedai milik Ipah. Wanita cantik itu muram. Lantaran hingga saat ini, tiga bulan sejak kedatangannya, tanda-tanda keberadaan Jul masih belum terlihat.
Lelah sudah ia mencari. Mengitari kota setiap pagi bersama Ipah sambil menunjukkan foto diri suaminya yang ia bawa. Lelaki tampan yang telah menaklukkan hatinya dengan suara merdunya. Lelaki yang menggaungkan mimpi akan kehidupan yang mapan untuk Mun dan keluarga kecil yang mereka bangun bersama. Mimpi-mimpi yang membuatnya terus bertahan di tengah cemoohan keluarganya yang sangat tidak setuju dengan pernikahan mereka.
Apakah sebaiknya pencarian ini dihentikan?
Mun menggelengkan kepala, lalu beranjak ke arah wanita-wanita cantik berpakaian mini yang sedari tadi melambai ke arahnya. Tak lupa ia membawa sebuah catatan kecil untuk mencatat pesanan para pelanggan.
 “Kak Ipah, dari dulu aku perhatikan, banyak ya cewek model begitu di sini,” wanita lugu itu akhirnya tak tahan untuk tidak berkomentar atas pemandangan yang kerap dilihatnya berbulan belakangan.
“Cewek yang mana?” tanya Ipah dengan tatapan bingung.
“Itu. Yang duduk di pojok, yang tadi pesan makanan,” Mun menunjuk dengan isyarat mata.
Ipah tertawa lebar.
“Itu bencong,” singkat jawaban Ipah disela tawa membuat Mun ternganga.
“Astaghfirullah,” desah wanita kampung itu berkali-kali.
Aku kan menghilang dalam pekat malam
Lepas kumelayang
Biarkan kubertanya pada bintang-bintang
Tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna[1]
Mun terkesiap saat mendengar lagu favoritnya dilantunkan oleh satu suara yang sangat ia kenal.
“Kak Ipah, itu suara Bang Jul,” ucap Mun sumringah.
 Wanita muda itu bergegas keluar mencari sumber suara. Namun, tak tampak dimatanya lelaki tampan yang ia rindukan selama ini. Yang tampak dari kejauhan hanyalah seorang bencong berkulit putih dengan gaun biru yang cantik.
Penasaran, Mun mengejarnya.
“Masya Allah, Bang Jul,” setengah berteriak Mun menatap bencong cantik bergaun biru itu dengan pandangan jijik.
@ @ @



[1] Peterpan, Mimpi yang Sempurna
Cerpen ini pernah dimuat di majalah Ummi edisi januari 2012

Senin, 26 Mei 2014

LOMBA MENULIS CERPEN “MISTERI JODOH” DL : 18 AGUSTUS 2014

PESANTREN MENULIS 2
Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional se-Indonesia
Misteri Jodoh
Pesantren Mahasiswa (Pesma) An-Najah (Purwokerto) menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional untuk Mahasiswa, santri dan Umum. Lomba ini merupakan rangkaian acara yang diadakan oleh Pesantren ini, dengan tema besarnya DARI CINTA UNTUK BANGSA “Misteri Jodoh”.

Adapun syaratnya sebagai berikut:
Peserta berasal dari mahasiswa, santri dan umum
Cerpen wajib karya asli dari si penulis, tidak karya terjemahan atau jiplakan, dan belum pernah dikirim untuk dipublikasikan kepada media massa atau lomba
Panjang cerpen 5-10 halaman kuarto, hurup times new roman size 12, spasi 1,5
Pengiriman dilampiri: riwayat singkat penulis, foto close up,scan tanda pengenal, SCAN BUKTI TRANSFER UANG PENDAFTARAN LOMBA CIPTA CERPEN Rp. 20.000,- ke rekening Pesma An-Najah BRI Purwokerto 0077-01-042963-50-2.
Jika cerpen menggunakan kutipan, maka gunakanlah “foot note”, atau “End Note”
Hanya diperbolehkan kirim 1 judul cerpen terbaiknya ke email=pesantrenmenulis2@gmail.com
Pengiriman naskah cerpen diterima selambatnya pada Senin 16 Agustus 2014 jam 23.59 WIB
Karya akan dibukukan dan dipilih 3 Juara dan 30 Nominator pada tanggal 5 Oktober 2014 dalam acara Gelar Budaya dan Penganugrahan Lomba Cipta Cerpen Pesantren Menulis 2. 

Para Nominator dan Pemenang akan mendapatkan imbalan:
Juara ke-1 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.500.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba;
Juara ke-2 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.250.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba;
Juara ke-3 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.000.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba.

Juri Lomba Cipta Cerpen:
·         Ahmad Tohari. (Sastrawan, Penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk);
·         Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STAIN Purwokerto);
·         Heru Kurniawan, S.Pd., M.A. (Cerpenis, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STAIN Purwokerto);
·         Arif Hidayat, S.Pd., M.Hum. (Sastrawan, Dosen di Sekolah Kepenulisan STAIN Purwokerto).
Jika ada pertanyaan silakan menghubungi penyelenggara di:
·         Alfian Ihsan. (085329221991)
·         Umi khasanah. (08561928486)
·         Aulia Nur Inayah. (085747170134/081903066160)

Kantor Sekretariat
Jl. Moh. Besar Kutasari Telp 0281-6572472

Bis Kura-kura

Memutuskan untuk menjalani pernikahan jarak jauh, memang sebuah keputusan besar yang harus saya ambil. Intensitas pertemuan yang jarang adalah salah satu hambatan untuk menguji seberapa besar kualitas kepercayaan satu sama lain. Hampir setahun menikah, saya terpaksa pisah tempat tinggal dengan suami sebab tuntutan pekerjaan.
Tentu semua ini menyebabkan kami sangat menanti-nanti akhir pekan. Menantikan kunjungan rutin yang selalu kami lakukan untuk melepas kerinduan. Sesekali, saya berkunjung ke tempat suami. Lain waktu, giliran suami yang datang mengunjungi.
Akhir pekan ini kebetulan saya mendapat giliran berkunjung. Jum’at sore hingga Minggu, kami habiskan bersama. Dan seperti biasa, saya memilih Senin pagi untuk pulang ke kota kelahiran. Sebelum pukul setengah enam pagi, kami membelah jalan protokol yang lengang. Lalu berhenti di sebuah halte di seberang tol Kapuas I. Di tempat itulah saya terbiasa menunggu bis antarkota yang akan membentangkan jarak panjang bagi kami.
Pagi ini, tak seperti pagi biasanya. Serangan fajar yang disebabkan makanan entah apa yang memasuki lambung saya tadi malam membuat saya sedikit agak terlambat. Bis yang kerap saya tumpangi telah berangkat. Khawatir terlambat, saya pun berinisiatif menaiki salah satu bis yang menunggu antrian keberangkatan. Setelah hampir bosan menunggu selama tiga puluh menit, berangkatlah saya.

Nah, dari sinilah ujian kesabaran dimulai. Sama sekali di luar perkiraan, bahwa bis yang saya tumpangi termasuk kategori bis yang (buat saya) kurang layak beroperasi. Tanya kenapa? Baru saja memulai perjalanan, asap pembuangan menyergap hidung saya dengan semena-mena. Asap hitam hasil pembakaran itu masuk ke dalam, melalui celah kecil di lantai bis yang berlubang karena karat.
Po-lu-si. Hanya kata itu yang dapat saya eja. Segera saya mengobrak-abrik tas punggung yang saya bawa. Mencari masker bermotif kelinci yang biasanya tersimpan rapi di dalamnya. Tapi, sepertinya kesabaran saya masih diuji. Masker mungil berwarna putih itu tak saya temukan jejaknya di sana.
Akhirnya dengan wajah nelangsa, saya terpaksa pindah ke kursi yang dekat dengan pintu. Mencari udara yang lebih layak hirup. Walaupun, harus berjibaku melawan hawa dingin tak apalah. Dari pada saya harus menghirup gas buangan. Masih mendingan jika yang dibuang itu karbondioksida, kalo karbonmonoksida gimana? Yang ada sebelum sampai tujuan, saya sudah KO duluan. J
Permasalahan selesai? Belum saudara-saudara. Belum seperempat perjalanan, bis telah disesaki oleh puluhan penumpang. Kendati tak ada lagi bangku kosong, namun tetap saja kondektur menampung semua penumpang. Hingga banyak diantara mereka yang (terpaksa) harus bergelantungan.
Sebenarnya saya juga tak bisa meyalahkan mereka. Sebab, mereka punya muara kepentingan yang sama. Penumpang perlu angkutan, pengemudi dan kondektur perlu makan. Jadi, begitulah. Simbiosis mutualisme. Hanya saja dengan jumlah penumpang yang semakin padat, saya merasakan kecepatan bis mulai menurun (emang ada hubungan ya massa dan kecepatan?). J
Bisnya merayap terseok-seok. Seperti kura-kura. Lagi-lagi, saya berusaha berpikiran positif. Mungkin saja, sopirnyatak berani mengebut karena merasa (teramat sangat) bertanggung jawab terhadap keselamatan puluhan penumpang. J
Atau, mungkin bisnya sudah sangat renta. Sehingga akan membahayakan keselamatan penumpang jika dipacu sekencang-kencangnya.
Akhirnya, saya berusaha berdamai dengan diri sendiri (yang telah mengomel dalam hati). Seraya mencata tiga pelajaran berharga yang saya dapatkan.

Satu, sedia masker sebelum menempuh perjalanan. Masker menjadi barang wajib yang harus kamu sediakan di dalam tas. 
Dua, jangan bereksperimen dengan makanan pedas, asam, atau makanan lain pemicu serangan fajar pada malam hari sebelum kamu bepergian. 
Dan yang ketiga, patuhi selalu alarm di jam weker supaya kamu nggak terlambat.
***

Minggu, 25 Mei 2014

LOMBA MENULIS FF TEMA "RAMALAN CINTA" (DL 30 Juni 2014)

Kamu pernah diramal atau pernah baca ramalan bintang lalu kamu percaya? Asmara, keuangan, kesehatan memang sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Tetapi di sini, bersama grup Warung Antologi, --hanya sebagai hiburan semata-- kalian diundang untuk menulis berbagai kisah ramalan cinta. Misal, zodiak kamu di minggu ini diramal akan mendapat kekasih setelah melakukan tiga kebaikan. Nah, rupanya kamu menuruti ramalan itu.
Yuk gali ide lainnya dengan kisah yang lebih seru ala kamu!

Syarat dan Ketentuan Lomba:

  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Menjadi anggota grup Warung Antologi
  3. Isi naskah: berupa FF (Flash Fiction) boleh fiksi ataupun kisah nyata.
  4. Naskah diketik 2-3 hlm pada jenis kertas A4, font cambria ukuran 11, spasi 1,5, dengan batas margin 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi. Format naskah .doc
  5. Naskah adalah karya sendiri (bukan saduran) dan belum pernah dipublikasikan lewat media mana pun.
  6. Setiap peserta melampirkan biodata narasi maksimal 50 kata/wajib mencamtumkan akun facebook yang ditulis di bagian akhir naskah (masih dalam satu file tetapi pada halaman terpisah).
  7. Naskah dikirim ke email: novelanian74@gmail.com berupa attachment, bukan di badan email.
  8. Tulis Subjek email dengan format: RAMALAN-Judul Naskah-Nama Penulis dan nama file FF-Judul Naskah-Nama Penulis, misal FF-Kotak Berdebu-Anita Luna. Mohon untuk memperhatikan syarat ini guna mempermudah admin dan juri menilai serta mengelolia naskah.
  9. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya.
  10. Lomba ini dibuka mulai 17 MEI 2014 hingga 15 JUNI 2014 (Jam 23:59 WIB).
Jika tidak ada halangan, Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 30 JUNI 2014. Jika ada keterlambatan, akan diumumkan dikemudian hari.
Bagikan info lomba ini kepada minimal 30 orang sahabat FB.
Naskah yang dikirim menjadi hak pelaksana lomba untuk dipublikasikan dalam bentuk buku.
Akan dipilih 30 naskah terbaik untuk dibukukan.
Seluruh juara dan kontributor wajib investasi sebesar 50.000
Keputusan Dewan Juri mengikat.
Hadiah:
Akan dipilih tiga pemenang
Pemenang 1: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Emas + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
Pemenang 2: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Perak + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
Pemenang 3: Sebuah buku terbit + Medali Lapis Plastik Warna Perunggu + Sertifikat + Voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000
Seluruh kontributor akan mendapatkan sertifikat, voucher penerbitan Pustaka Jingga 50.000 dan potongan harga khusus untuk setiap pembelian buku.

Selamat berlomba!

Event Puisi Di Bulan Mei (DL 31 Mei 2014)

Bulan Mei Sebentarlagi datang. Banyak kenangan dari tahun-tahun yang telah lewat di bulan Mei.Tentu sayang kalau disimpan sendiri. Akan lebih indah dan manis kalaudituangkan dalam puisi.
Yuk, simak syaratdan ketentuannya: (BACA SYARATNYA DENGAN TELITI, NASKAH YANG TIDAK SESUAISYARAT LANGSUNG DIDISKUALIFIKASI ATAU TIDAK TERUPDATE)
1. Naskah harus karya asli, belum pernah dipublikasikan di media apapun dannaskah tidak diikutkan dalam event apapun.
2. Bergabung di grup Goresan Pena Publishing.
3. Copas info ini ke note fbmu, lalu tag infotersebut ke 25 teman fbmu.
4. Naskah harus berbentuk puisi dengan tema "Kenangan Terindah"
5. Naskah Asli bukan plagiasi dan tidak sedang diikutkan dalam event apapun. Diketik pada lembar A4 MS.Word 2003/2007, fontTimes New Roman 12pt, spasi 1,5 , panjang maksimal 17 baris (termasuk judul),sertakan titimangsa di akhir puisi (contoh : Wonogiri, 1 Mei 2014), dan janganlupa sertakan biodata narasi max. 50 kata
6. Naskah dikirim ke email event.goresan.pena@gmail.comcc Rindoeboelan@yahoo.com dengan subject Puisi Mei-NAMAMU-JUDUL
7. DL 31 Mei jam 12 malam.
8. Hasil akan diumumkan pada tanggal 7 Juni 2014.
9. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 karya terbaiknya.
Semua naskah yang masuk akan dibukukan.
Reward:
1 naskah terbaik akan mendapatkan 1 eks bukuterbitnya+e-sertifikat+Vocher penerbitan senilai 100 ribu rupiah.
seluruh kontributor mendapatkan e-sertifikat,vocher penerbitan senilai 50 ribu dan potongan harga 10% jika membeli bukuterbitnya.
salam pena