Jumat, 06 Februari 2015

Antologi ke-3: 100% Cinta

Even cerita bersoundtrack dari Mba Fitri. Iseng ikutan, nggak nyangka lolos. Padahal baru kali itu nulis genre romance. Terinspirasi dari lagu Padi tapi judulnya lupa :)
Nanti sesekali saya post di sini.

Antologi ke-2: Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan


Versi pertama diterbitkan di Leutikaprio.

Setelah WR punya penerbitan sendiri, diterbitkan kembali oleh WR.

Antologi ke - 1: Wajah-wajah Kayu Bapak

Antologi pemenang LMCR WR 2011
Terbit di Leutikaprio tahun 2011

Resonansi


Aku meremas jemari perlahan. Mencoba mengusir hawa sejuk yang menyapa halus. Suhu udara di ruangan seluas lima puluh empat meter persegi ini kontras dengan suhu siang hari khatulistiwa yang panas. Mungkin, dua buah mesin pendingin berukuran raksasa yang menempati sudut ruangan menjadi penyebabnya.
Hmm... kuhembuskan nafas perlahan. Sesekali melirik Bu Almira, perempuan berbalut jas biru muda di depanku. Sepertinya belum ada tanda-tanda bahwa wanita cantik berkerudung itu akan mengakhiri kebisuan yang tercipta di antara kami meski setengah jam telah berlalu. Beliau tampak serius membolak-balik halaman tertentu tugas akhirku yang cukup tebal. Membaca dengan detail tiap kalimat yang kusajikan, lalu mencoret beberapa bagian dengan kejam. Membuatku menahan nafas untuk beberapa saat. Sesak.
Killer, perfeksionis dan idealis. Demikian label yang disematkan teman-temanku pada wanita diambang empat puluh itu. Tentu hal tersebut membuat hampir seluruh mahasiswa seangkatanku enggan jika harus berurusan dengan beliau. Dan akulah yang paling beruntung. Mendapat kesempatan emas untuk berhadapan langsung dalam sidang skirpsi yang digelar empat bulan silam.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu, campur aduk jadi satu. Euforia. Sebab, ketua dewan pengujiku adalah lulusan terbaik salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Sekaligus muncul perasaan khawatir untuk berhadapan dengan beliau yang terkenal menakutkan di seantero kampus. Terbukti, waktu empat jam yang disediakan, menjadi semarak dengan perang argumen bersahut-sahutan, antara aku dan beliau.
Begitulah. Setelah sidang berakhir, aku masih harus berjibaku merampungkan seabrek revisi yang ia oleh-olehkan kepadaku.
Jemari lentik itu meletakkan tulisan setebal dua ratusan halaman itu tepat di hadapanku, tanpa suara. Sontak kurapalkan lagi doa Rabithah yang selalu kuulang berkali-kali, khusus untuknya. Berharap do’a itu mampu membuat hati Bu Almira beresonansi dan sedikit melunak. Aku percaya pada kekuatan do’a yang begitu dahsyat.
Namun, pernyataan retoris yang keluar dari pemilik bibir tipis itu, kembali membuatku lemas, “Masih ada beberapa bagian tak penting yang harus dihilangkan!”
 Sementra aku mengangguk lemah seraya membayangkan akan ada revisi kesekian dari dosen perfeksionis itu.
Kepalaku terangguk lemah. Bayangan revisi entah keberapa yang harus kuselesaikan menari di depan mata. Kutarik tulisan itu perlahan untuk menemukan bagian tak penting seperti yang beliau katakan.
Aku terpaku ketika mataku menangkap satu goresan mungil di sudut halaman pertama. Pada lembaran yang berisi pengesahan dewan penguji itu, terdapat paraf samar milik Bu Almira.
“Setelah dijilid rapi, baru saya tanda tangan,” ujarnya seperti memahami keterkejutanku. Aku mengangguk cepat. Mengucap terima kasih sambil menggumamkan hamdalah. Dan ia pun tersenyum. Tidak hanya dengan bibir, tapi matanya pun tersenyum kepadaku.
♥♥♥

Bunda dan Lelaki Pilihan


Aku hanya tertunduk ketika hawa panas kembali menjalari setiap inci wajahku. Tak berani rasanya mengangkat muka. Terlebih, saat wanita lembut itu menatapku dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupku, aku merasa tak mampu berkata-kata.
Wanita itu diam tanpa suara. Dan itu semua sudah cukup bagiku sebagai tanda bahwa beliau menanti penjelasanku. Sesekali jemari lentiknya yang mulai keriput tampak sigap membolak-balik lembaran kertas berjilid rapi di tangannya. Pupilnya berlari menelusuri kalimat-kalimat yang berhamburan pada lembaran biografi milik Langit. Sementara aku hanya mematung menantikan komentar beliau.
“Jadi... bagaimana menurut Bunda?” akhirnya aku menyerah pada kebisuan kami yang cukup lama.
“Apanya yang bagaimana? Jika dia memang serius menginginkan gadis semata wayangku seperti yang ditulisnya di sini, suruh saja ia kemari!” ujarnya seraya tersenyum lembut.
Air mataku sontak luruh di pangkuan wanita yang masih terbalut mukena itu. Isakku terdengar halus. Entah apa sebabnya, aku merasa malu jika harus bercerita tentang lelaki yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.
“Duh, ada pangeran cakep mau datang, kok malah nangis?” Bunda meledek hingga membuat isakku bertambah keras.
"Sudah, anak manis nggak boleh nangis. Apa yang mengganggu pikiranmu?” bujukan khasnya cukup efektif meredakan tangisku.
“Naya bingung, Bunda. Naya nggak yakin,” lirihku disela-sela isak yang tertahan.
“Kenapa harus bingung? Menurut Bunda, Langit lelaki yang baik makanya ia berani mengajakmu menikah. Kalo dia lelaki kebanyakan, mungkin anak gadisku hanya dipacarinya bertahun-tahun, lalu ditinggalkan tanpa kejelasan. Iya kan?”
 “Iya, tapi aku takut jika Langit tak memenuhi standar calon menantu ideal untuk Bunda. Usianya terpaut dua tahun di bawahku. Selain itu, ia juga bukan lelaki yang punya penghasilan sekian banyak. Aku khawatir Bunda tak setuju,” ucapku melepas uneg-uneg lalu menenggelamkan diri kembali dalam dekapannya yang hangat.
Wanita diambang enam puluh itu tertawa lepas, sebelum akhirnya bertanya, ”Naya... Naya. Sejak kapan kau tahu standar calon menantu idealku?”
Aku menggigit bibir, resah. Pertanyaan Bunda telak menghantamku. Memang benar, aku tak pernah bertanya ihwal syarat calon menantu idamannya. Jangankan untuk bertanya, untuk memulai pembicaraan ini saja membuat pipiku merona merah jambu.
“Setiap orangtua memiliki syarat khusus untuk calon pemimpin putrinya, Naya. Dan syarat itu tentu berbeda. Ketika dia mampu menafkahimu dengan harta yang baik dan halal, itu sudah cukup bagiku. Tentu saja, syarat utamanya ia harus memiliki agama yang baik agar dapat membimbingmu. Kau sudah cukup dewasa sekarang. Mungkin ini waktu yang tepat bagiku untuk melepas tanggung jawab kepada seorang lelaki seperti Langit,” jelas Bunda panjang lebar sementara aku hanya mengangguk.
 “Percaya dengan hasil istikharahmu, Nay. Jika kamu melibatkan-Nya dalam pilihan yang kau ambil, maka penyesalan itu tak akan pernah hadir,” lanjutnya seraya mengecup keningku lembut.
Dadaku penuh sesak dengan kegembiraan. Beban yang terasa menghimpit, seolah hilang. Kekhawatiran akan penolakan Bunda terhadap lelaki yang telah menawarkan niat tulusnya kepadaku, hanyalah prasangka yang dihembuskan setan di hatiku. Dan aku percaya bahwa kebahagiaanku akan mengalir seiring doa Bunda.
♥♥♥