“Hari ini masak sayur bening ya?” "Sayur bening lagi?" Aku menatap heran ke arah suamiku.
“Perasaan dua hari lalu udah masak sayur bening. Emang nda bosan?” lanjutku seraya membantu belahan jiwaku mengenakan dasi.
“Nda tuh. Sayur bening buatanmu tak ada duanya,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum simpul. Tersipu mendengar suamiku menggombal
“Sambal tomatnya jangan lupa. Pakai terasi,” bisiknya sambil mengecup pipiku.
“Oh, no. Itu lagi,” aku manyun membayangkan dua musuh bebuyutanku kembali
terhidang di meja makan.
“Tolong ya sayang?” pintanya seraya pamit ke kantor.
Aku hanya menggeleng manja. Setengah tak rela jika hari ini harus berjibaku
dengan menu itu lagi.
♥♥♥
Bang Haris duduk manis menghadap meja makan. Kuperhatikan, sedari tadi ia hanya memainkan sendok di piringnya.
♥♥♥
Bang Haris duduk manis menghadap meja makan. Kuperhatikan, sedari tadi ia hanya memainkan sendok di piringnya.
“Sayur beningnya nda ada ya?” tanyanya di sela suapan yang ketiga.
Aku menggeleng mantap, “Sekali-kalilah masak pacri nanas.”
Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala dan sesekali
melirik ke arahku. Mesra.
“Adek kenapa nda makan? Sini aku suapin.”
Aku jengah. Tapi, tak urung membuka mulut.
“Mmm, besok adek masakin sayur bening aja ya, Bang,” ujarku sesaat kemudian
ketika merasa bahwa masakanku benar-benar tak layak telan.
Bang Haris tertawa seraya mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar