Jumat, 18 September 2015

Kompetisi Esai Mini World Project -2015 - Georgia (Deadline 14 Oktober 2015)

The World of Georgia,
Georgia mungkin masih terasa asing bagi orang Indonesia - perwakilan resmi pertama Georgia di Asia Tenggara baru dibuka tahun 2012 lalu di Jakarta. Namun ternyata, negeri yang terletak di Kaukasus ini memiliki sejumlah keunikan yang belum banyak diketahui publik.

Tahukah Anda bahwa tradisi pembuatan wine Georgia adalah salah satu yang tertua di dunia? Dimulai sejak 8000 tahun lalu, wine Georgia yang dibuat dengan metode Kvevri telah lama menjadi warisan dunia UNESCO. Selain itu, Georgia juga memiliki sistem tulisannya sendiri, demografinya bergunung seperti Indonesia dan karena berada di perbatasan Eropa dan Asia (Eurasia) negeri ini mempunyai kebudayaan dan tradisi yang khas.

Semua keunikan Georgia hendaknya dikaji lebih lanjut untuk memperkaya pengetahuan dan membangun kerjasama yang lebih erat dengan negara Kaukasus Selatan ini. Sebagai bagian dari upaya mempromosikan potensi kerjasama antara Indonesia dan negara-negara sahabat, Leavco Language Centre mengundang pelajar SMA, mahasiswa S1 dan masyarakat umum untuk mengikuti kompetisi menulis esai bertema "The World of Georgia". Subtema esai tahun ini adalah:
1) Menjelajahi Keunikan Georgia: Sejarah, Bahasa dan Budaya.
2) Hubungan Indonesia-Georgia: Tren Kerjasama Ekonomi di Masa Depan.

3) Georgia dan Perannya di Eurasia.
Ketentuan penulisan:
1.                   Naskah diketik pada kertas ukuran A4, huruf Arial 12, margin kiri-kanan-atas-bawah 4-3-3-3 cm, spasi 1,5. 
2.                   Gaya bahasa populer, sistematis dan mudah dimengerti khalayak umum. Ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3.                   Tulisan 4-5 halaman tidak termasuk lampiran, daftar pustaka/sumber referensi, biografi peserta, scan/foto KTP atau KTM (tidak wajib untuk kategori pelajar SMA), dan halaman pernyataan keaslian tulisan.
4.                   Penulisan nomor halaman menggunakan angka Arab 1,2,3 dan seterusnya di sudut kanan bawah. Urutan penulisan: Isi esai, lampiran/data pendukung (jika ada), daftar pustaka/sumber referensi, biografi peserta, scan/foto KTP atau KTM dan pernyataan keaslian tulisan dalam satu file pdf.
5.                   Naskah dikirim ke mwpgeorgia2015@leavco.com. Naskah diterima paling lambat tanggal 14 Oktober 2015, pukul 23.59 WIB dalam format pdf.
6.                   Naskah yang masuk menjadi milik panitia, hak cipta tetap ada pada pengarang. Panita tidak bertanggungjawab atas klaim pihak ketiga atas naskah yang dikirimkan.

Persyaratan peserta
1.                   Melakukan “like and share” halaman facebook (https://web.facebook.com/leavco) dan follow twitter (https://twitter.com/theleavco) atau instagram (leavco_id) Leavco Language Centre. Peserta yang telah mengirimkan esai wajib konfirmasi melalui sms ke nomor 085811264236 dengan format nama lengkap_kategori peserta_judul esai_asal sekolah/universitas/umum.
2.                   Peserta adalah individu dan diperbolehkan mengirim maksimal 2 esai.
3.                   Penjurian akan dilakukan oleh tiga orang juri dari perwakilan Kedutaan Besar Georgia di Jakarta dan perwakilan Leavco Language Centre. Keputusan juri bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.
4.                   Kriteria penilaian mencakup: orisinalitas ide tulisan, gaya bahasa dan sistematika penulisan. Lomba bersifat gratis.
Hadiah:
3 orang pemenang kategori pelajar SMA dan 7 orang pemenang kategori mahasiswa atauumum mendapatkan koleksi souvenir asli dari Georgia dan undangan eksklusif makan malam bersama Duta Besar Republik Georgia, Y.M Zurab Aleksidze di Kedutaan Besar Republik Georgia – Jakarta dalam acara penyerahan hadiah tanggal 7 November 2015. Akomodasi & transportasi dari dan ke Kedutaan Besar Republik Georgia di Jakarta ditanggung pemenang. Hadiah souvenir akan dikirimkan melalui pos apabila pemenang tidak menghadiri acara penyerahan hadiah di Jakarta.


Info & Daftar Kontak:
Website : www.leavco.com
SMS/Whatsapp: 085811264236 (Chandra)
Instagram : leavco_id
Twitter      : https://twitter.com/theleavco

info ini dikirimkan oleh Chandra Putra

NB ! Silahkan Copy paste, dengan tetap mencantumkan sumber ke info-lomba.com juga. Trims :-) Follow twitter kami:
 @infolomba_indo Like Fb kami: info lomba

Libur

Alhamdulillah... Setelah berminggu-minggu berjibaku melawan kabut asap yang makin tebal, akhirnya sekolah kami libur. Meski hanya dua hari, tapi tetap saya sambut dengan gegep gempita :D
Gimana ngga senang coba, libur gitu loh :)
Lagian, siapa yang tahan diasapin tiap hari? terus terang, saya belum punya bulu hidung anti asap untuk melindungi saluran pernafasan yang terpapar kabut. Begitu pun dengan mata. Asli, baru beberapa menit berkendara, mata saya sudah lelah. Perih karena terlalu banyak partikel debu yang menggempur dengan semena-mena. jadi, wajar kan kalo saya senang diberi kesempatan rehat di rumah. Senangnya pake banget!

Nah, permasalahannya adalah libur dua hari saya mau ngapain aja? Baru sehari libur saya udah bosan. Keluar diserbu jerebu. Masuk rumah lagi, planga-plongo kayak sapi ompong. Nonton tivi, banyak acara ngga mutu tayang pagi-pagi.
Akhirnya, sebagai IBU RUMAH TANGGA profesional saya berusaha memanjakan perut suami. Sambil bersihkan salju yang mulai menumpuk di freezer, saya bergerilya memadupadankan beberapa bahan di kulkas untuk dibuat camilan sehat :)
Alhamdulillah, kemaren dikasih singkong sama tetangga sebelah rumah. Sudah dikupas kulit lagi. Senangnya :D
Hasilnya, sepiring Kue Bom bisa saya sajikan buat camilan sore. Penganan kecil dari singkong rebus yang digoreng ini, bentuknya bulat-bulat, makanya dibilang kue bom. Bunda  mau coba? Ini saya bagi resepnya :)

KUE BOM
bahan
300 gram singkong rebus
1 butir telur ayam
10 sdm tepung terigu
daun seledri secukupnya (saya gunakan 2 batang aja)
25 gram ikan teri kecil
2 siung bawang putih
1/2 sdt merica bubuk
garam secukupnya (boleh ditambahi penyedap rasa)
air secukupnya (saya 15 sendok airnya, jadi adonan tepung agak encer)
minyak goreng untuk menumis
minyak untuk menggoreng

caranya:
1. tumbuk singkong rebus jangan terlalu halus. sisihkan.
2. tumbuk halus bawang putih, merica bubuk dan ikan teri sampai halus.
3. tumis bumbu halus sampai harum.
4. masukkan singkong, aduk rata.
5. tambahkan garam/penyedap rasa dan daun seledri. angkat dan dinginkan.
6. bentuk bulat-bulat.
7. buat adonan tepung dengan mencampurkan tepung, air, dan telur. bubuhi garam sedikit.
8. celupkan kue dalam adonan. lalu goreng dalam minyak panas sampai kekuningan.

Selamat mencoba. Maaf belum sempat upload fotonya :)


Jumat, 06 Februari 2015

Antologi ke-3: 100% Cinta

Even cerita bersoundtrack dari Mba Fitri. Iseng ikutan, nggak nyangka lolos. Padahal baru kali itu nulis genre romance. Terinspirasi dari lagu Padi tapi judulnya lupa :)
Nanti sesekali saya post di sini.

Antologi ke-2: Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan


Versi pertama diterbitkan di Leutikaprio.

Setelah WR punya penerbitan sendiri, diterbitkan kembali oleh WR.

Antologi ke - 1: Wajah-wajah Kayu Bapak

Antologi pemenang LMCR WR 2011
Terbit di Leutikaprio tahun 2011

Resonansi


Aku meremas jemari perlahan. Mencoba mengusir hawa sejuk yang menyapa halus. Suhu udara di ruangan seluas lima puluh empat meter persegi ini kontras dengan suhu siang hari khatulistiwa yang panas. Mungkin, dua buah mesin pendingin berukuran raksasa yang menempati sudut ruangan menjadi penyebabnya.
Hmm... kuhembuskan nafas perlahan. Sesekali melirik Bu Almira, perempuan berbalut jas biru muda di depanku. Sepertinya belum ada tanda-tanda bahwa wanita cantik berkerudung itu akan mengakhiri kebisuan yang tercipta di antara kami meski setengah jam telah berlalu. Beliau tampak serius membolak-balik halaman tertentu tugas akhirku yang cukup tebal. Membaca dengan detail tiap kalimat yang kusajikan, lalu mencoret beberapa bagian dengan kejam. Membuatku menahan nafas untuk beberapa saat. Sesak.
Killer, perfeksionis dan idealis. Demikian label yang disematkan teman-temanku pada wanita diambang empat puluh itu. Tentu hal tersebut membuat hampir seluruh mahasiswa seangkatanku enggan jika harus berurusan dengan beliau. Dan akulah yang paling beruntung. Mendapat kesempatan emas untuk berhadapan langsung dalam sidang skirpsi yang digelar empat bulan silam.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu, campur aduk jadi satu. Euforia. Sebab, ketua dewan pengujiku adalah lulusan terbaik salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Sekaligus muncul perasaan khawatir untuk berhadapan dengan beliau yang terkenal menakutkan di seantero kampus. Terbukti, waktu empat jam yang disediakan, menjadi semarak dengan perang argumen bersahut-sahutan, antara aku dan beliau.
Begitulah. Setelah sidang berakhir, aku masih harus berjibaku merampungkan seabrek revisi yang ia oleh-olehkan kepadaku.
Jemari lentik itu meletakkan tulisan setebal dua ratusan halaman itu tepat di hadapanku, tanpa suara. Sontak kurapalkan lagi doa Rabithah yang selalu kuulang berkali-kali, khusus untuknya. Berharap do’a itu mampu membuat hati Bu Almira beresonansi dan sedikit melunak. Aku percaya pada kekuatan do’a yang begitu dahsyat.
Namun, pernyataan retoris yang keluar dari pemilik bibir tipis itu, kembali membuatku lemas, “Masih ada beberapa bagian tak penting yang harus dihilangkan!”
 Sementra aku mengangguk lemah seraya membayangkan akan ada revisi kesekian dari dosen perfeksionis itu.
Kepalaku terangguk lemah. Bayangan revisi entah keberapa yang harus kuselesaikan menari di depan mata. Kutarik tulisan itu perlahan untuk menemukan bagian tak penting seperti yang beliau katakan.
Aku terpaku ketika mataku menangkap satu goresan mungil di sudut halaman pertama. Pada lembaran yang berisi pengesahan dewan penguji itu, terdapat paraf samar milik Bu Almira.
“Setelah dijilid rapi, baru saya tanda tangan,” ujarnya seperti memahami keterkejutanku. Aku mengangguk cepat. Mengucap terima kasih sambil menggumamkan hamdalah. Dan ia pun tersenyum. Tidak hanya dengan bibir, tapi matanya pun tersenyum kepadaku.
♥♥♥

Bunda dan Lelaki Pilihan


Aku hanya tertunduk ketika hawa panas kembali menjalari setiap inci wajahku. Tak berani rasanya mengangkat muka. Terlebih, saat wanita lembut itu menatapku dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupku, aku merasa tak mampu berkata-kata.
Wanita itu diam tanpa suara. Dan itu semua sudah cukup bagiku sebagai tanda bahwa beliau menanti penjelasanku. Sesekali jemari lentiknya yang mulai keriput tampak sigap membolak-balik lembaran kertas berjilid rapi di tangannya. Pupilnya berlari menelusuri kalimat-kalimat yang berhamburan pada lembaran biografi milik Langit. Sementara aku hanya mematung menantikan komentar beliau.
“Jadi... bagaimana menurut Bunda?” akhirnya aku menyerah pada kebisuan kami yang cukup lama.
“Apanya yang bagaimana? Jika dia memang serius menginginkan gadis semata wayangku seperti yang ditulisnya di sini, suruh saja ia kemari!” ujarnya seraya tersenyum lembut.
Air mataku sontak luruh di pangkuan wanita yang masih terbalut mukena itu. Isakku terdengar halus. Entah apa sebabnya, aku merasa malu jika harus bercerita tentang lelaki yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.
“Duh, ada pangeran cakep mau datang, kok malah nangis?” Bunda meledek hingga membuat isakku bertambah keras.
"Sudah, anak manis nggak boleh nangis. Apa yang mengganggu pikiranmu?” bujukan khasnya cukup efektif meredakan tangisku.
“Naya bingung, Bunda. Naya nggak yakin,” lirihku disela-sela isak yang tertahan.
“Kenapa harus bingung? Menurut Bunda, Langit lelaki yang baik makanya ia berani mengajakmu menikah. Kalo dia lelaki kebanyakan, mungkin anak gadisku hanya dipacarinya bertahun-tahun, lalu ditinggalkan tanpa kejelasan. Iya kan?”
 “Iya, tapi aku takut jika Langit tak memenuhi standar calon menantu ideal untuk Bunda. Usianya terpaut dua tahun di bawahku. Selain itu, ia juga bukan lelaki yang punya penghasilan sekian banyak. Aku khawatir Bunda tak setuju,” ucapku melepas uneg-uneg lalu menenggelamkan diri kembali dalam dekapannya yang hangat.
Wanita diambang enam puluh itu tertawa lepas, sebelum akhirnya bertanya, ”Naya... Naya. Sejak kapan kau tahu standar calon menantu idealku?”
Aku menggigit bibir, resah. Pertanyaan Bunda telak menghantamku. Memang benar, aku tak pernah bertanya ihwal syarat calon menantu idamannya. Jangankan untuk bertanya, untuk memulai pembicaraan ini saja membuat pipiku merona merah jambu.
“Setiap orangtua memiliki syarat khusus untuk calon pemimpin putrinya, Naya. Dan syarat itu tentu berbeda. Ketika dia mampu menafkahimu dengan harta yang baik dan halal, itu sudah cukup bagiku. Tentu saja, syarat utamanya ia harus memiliki agama yang baik agar dapat membimbingmu. Kau sudah cukup dewasa sekarang. Mungkin ini waktu yang tepat bagiku untuk melepas tanggung jawab kepada seorang lelaki seperti Langit,” jelas Bunda panjang lebar sementara aku hanya mengangguk.
 “Percaya dengan hasil istikharahmu, Nay. Jika kamu melibatkan-Nya dalam pilihan yang kau ambil, maka penyesalan itu tak akan pernah hadir,” lanjutnya seraya mengecup keningku lembut.
Dadaku penuh sesak dengan kegembiraan. Beban yang terasa menghimpit, seolah hilang. Kekhawatiran akan penolakan Bunda terhadap lelaki yang telah menawarkan niat tulusnya kepadaku, hanyalah prasangka yang dihembuskan setan di hatiku. Dan aku percaya bahwa kebahagiaanku akan mengalir seiring doa Bunda.
♥♥♥